Home / Opini

Selasa, 30 Juni 2026 - 09:35 WIB

Momen HUT Bhayangkara, Keluarga Harap Kapolda Sulteng Atensi Misteri Kematian Caca di Poso

Rony Sandhi. (Foto: Istimewa)

Rony Sandhi. (Foto: Istimewa)

Oleh: Rony Sandhi
Ketua Ikatan Generasi Muda Pamona Poso (IGMPP)

Perayaan HUT Bhayangkara setiap 1 Juli selalu menjadi momentum bagi Kepolisian Republik Indonesia untuk merefleksikan pengabdian kepada masyarakat.

Di balik upacara, penghargaan, dan berbagai kegiatan sosial yang digelar, ada satu hal yang jauh lebih penting: menghadirkan keadilan bagi masyarakat yang masih menunggu kepastian hukum.

Di Sulawesi Tengah, salah satu kasus yang hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar adalah pembunuhan sadis terhadap seorang pelajar perempuan berusia 16 tahun, SBAP alias Caca, yang ditemukan tewas di kamar kosnya di Jalan Talasa, Kelurahan Lawanga Tawongan, Kecamatan Poso Kota Utara, pada 21 Oktober 2024.

Hingga menjelang HUT Bhayangkara ke-80 pada 1 Juli 2026, atau hampir dua tahun setelah peristiwa tragis itu terjadi, pelaku pembunuhan belum juga berhasil diungkap.

Waktu terus berjalan, tetapi kepastian hukum masih menjadi harapan yang belum terjawab bagi keluarga korban.

Baca juga  Legenda Ahmad Tohari Sastrawan Dan Budayawan yang Dituduh Komunis

Padahal, berbagai langkah penyelidikan telah dilakukan. Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, mengambil sampel sidik jari di lokasi kejadian, melakukan pemeriksaan DNA terhadap beberapa pihak, hingga mengirimkan barang bukti ke Pusat

Laboratorium Forensik Mabes Polri di Jakarta. Semua itu menunjukkan bahwa proses penyelidikan terus berjalan.

Namun, dari sudut pandang masyarakat, ukuran keberhasilan bukan hanya sejauh mana proses dilakukan, melainkan apakah pelaku berhasil ditemukan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Bagi keluarga Caca, khususnya sang ibu, Nina Sulelino, penantian panjang ini tentu bukan perkara mudah.

Setiap hari yang berlalu tanpa kepastian menjadi beban psikologis yang terus bertambah. Mereka tidak hanya kehilangan anak tercinta, tetapi juga masih menunggu negara menghadirkan rasa keadilan.

Kasus ini bahkan pernah mendapat perhatian dari Komnas HAM yang mendorong agar penyelidikan dilakukan secara serius dan tuntas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perkara ini bukan hanya menjadi perhatian keluarga korban, tetapi juga menjadi perhatian publik.

Baca juga  100 Hari Anwar-Reny: Empat Catatan Kritis JATAM Sulteng

Kini, harapan baru muncul dengan hadirnya Kapolda Sulawesi Tengah yang baru, Brigjen Pol. Nasri Sulaeman.

Pergantian kepemimpinan selalu membawa harapan akan semangat baru dalam menyelesaikan berbagai persoalan, termasuk perkara-perkara yang hingga kini belum terungkap.

Momentum HUT Bhayangkara ke-80 menjadi waktu yang tepat bagi Polda Sulawesi Tengah, khususnya Polres Poso untuk menjadikan kasus pembunuhan Caca sebagai salah satu prioritas penegakan hukum.

Perhatian khusus dari Polda tentu tidak dimaksudkan untuk mengintervensi penyidikan, melainkan memperkuat koordinasi, dukungan sumber daya, serta evaluasi agar proses pengungkapan berjalan lebih optimal.

Keberhasilan kepolisian selama ini dalam mengungkap berbagai kasus pembunuhan di daerah lain menunjukkan bahwa kerja keras, teknologi forensik, dan kolaborasi lintas satuan mampu menghasilkan titik terang. Optimisme yang sama tentu layak diberikan terhadap penanganan kasus Caca.

Share :

Baca Juga

Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako, Muhammad Sabri Syahrir/Ist

Opini

Refleksi Hari K3 Internasional
Alfandy Ahmad Eyato/Ist

Opini

Dari Pekarangan ke Perlawanan: Menolak ‘Kabupaten Sawit’ di Tojo Una-Una
Stevi Rasinta dari Perempuan Mahardhika Palu (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Opini

100 Hari Anwar-Reny: Di Mana Program BERANI untuk Perempuan dan Pekerja?
Tampak depan tampilan aplikasi situs OMC (Sumber: hariansulteng.com)

Opini

OMC dan Rentenir: Pemerintah Gagap
Azman Asgar/Ist

Opini

Kebersihan, Pijakan Dasar Kota Jasa
Koordinator Jatam Sulteng, Moh. Taufik/hariansulteng

Opini

100 Hari Anwar-Reny: Empat Catatan Kritis JATAM Sulteng
Advokat Kantor Hukum Tepi Barat and Associates, Rukly Chayadi/Ist

Opini

Ketika Pelindung Malah Jadi Predator: Perlunya Tindakan Tegas Terhadap Oknum Polisi
Advokat Kantor Hukum Tepi Barat and Associates, Rukly Chayadi/Ist

Opini

Ribut-ribut Tambang Ilegal PT AKM: Ketidaktegasan Polri Malah Menambah Masalah