Home / Opini

Sabtu, 30 Desember 2023 - 23:58 WIB

Yayasan Tanah Merdeka Respons Kunjungan Badko HMI Sulteng ke Balai Besar TNLL

Direktur Eksekutif Yayasan Tanah Merdeka, Richard Labiro/Ist

Direktur Eksekutif Yayasan Tanah Merdeka, Richard Labiro/Ist

Tidak hanya ADB, Taman Nasional Lore Lindu sejak lama telah didanai oleh lembaga keuangan Internasional seperti USAID, dan dilaksanakan pendanaan tersebut melalui program-program pemberdayaan yang lebih mengarahkan pada perubahan perilaku atau budaya agrarian masyarakat. Lembaga yang paling diingat masyarakat yang justru mendapat tentangan bagi masyarakat adat yaitu The Nature Conservacy (TNC).

Dalam studi Tania Li, TNC memisahkan akar kemiskinan Masyarakat dengan keberadaan tapal batas Taman Nasional Lore Lindu dalam Theory of Change mereka. Justru lebih mengarahkan perhatian mereka pada kegiatan ekonomi oportunistik Masyarakat di lingkar batas TNLL dengan praktek ekonomi Masyarakat dari luar.

Hal ini yang membuat TNC melakukan “The Will to Improve” dengan cara mengusulkan pembentukan organisasi tingkat desa serta mengalihkan aktivitas kaum muda agar tidak menyentuh areal Taman Nasional Lore Lindu, membuat usaha mikro, usaha pemasaran madu, wisata arung jeram, peternakan kupu-kupu, dan peternakan lebah.

Baca juga  Yayasan Tanah Merdeka Soroti Bencana Longsor di Area Penyimpanan Limbah Tailing PT IMIP

Alih-alih TNC mendorong ekonomi Masyarakat miskin di sekitar Taman Nasional Lore Lindu, justru hal itu sulit dibuktikan oleh mereka. Demikian riset Tania Li dalam bukunya.

Selain TNC, ada STORMA dari Jerman. Sebuah lembaga riset yang fokus pada keanekaragaman hayati di dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Sama halnya dengan TNC, STORMA lebih fokus menilai perilaku masyarakat yang mereka nilai dapat merusak tatanan tapal batas Taman Nasional Lore Lindu. Sehingga, setiap laporan mereka, istilah masyarakat ‘terasing’ atau ‘tertinggal’ menjadi sasaran bagi rencana tindak lanjut mereka di akhir laporan risetnya.

Baca juga  YTM Kumpul Serikat Buruh Bahas Praktik Buruk Industri Tambang Nikel di Sulteng

Pematokan atau pemancangan tapal batas adalah perampasan tanah bagi masyarakat yang hidup di kawasan hutan. Inilah yang disebut enclosure. Pematokan juga telah menjadikan tanah sebagai aset yang dimonopoli oleh tuan tanah dan perusahaan. Inilah yang kemudian menciptakan penambang-penambang di TNLL yang di mana tambang emas merupakan alternatif bagi kemiskinan yang mereka alami sejak lama.

Perlu diketahui, di Desa Sidondo, Sibowi hingga Sibalaya, desa di tapal batas TNLL ini telah lama ter-enclosure dari tanah mereka. Ditambah lagi, pascabencana alam, irigasi Gumbasa belum kunjung selesai. Banyak Masyarakat menjadi petani penggarap dan buruh tani. Sisanya buruh tambang baik, di tambang emas maupun buruh di Morowali.

Share :

Baca Juga

Rony Sandhi. (Foto: Istimewa)

Opini

Momen HUT Bhayangkara, Keluarga Harap Kapolda Sulteng Atensi Misteri Kematian Caca di Poso
Advokat Kantor Hukum Tepi Barat and Associates, Rivkiyadi/Ist

Opini

Sengketa Mahasiswa Fakultas Teknik vs Kehutanan: Kegagalan Serius dalam Keamanan dan Kepercayaan di Untad
LEGENDA AHMAD TOHARI SASTRAWAN DAN BUDAYAWAN YANG DITUDUH KOMUNIS

Opini

Legenda Ahmad Tohari Sastrawan Dan Budayawan yang Dituduh Komunis
Azman Asgar/Ist

Opini

Kebersihan, Pijakan Dasar Kota Jasa
Ketua Umum Badko HMI Sulteng, Alief Veraldhi/Instagram @aliefvrldhi

Opini

Menag Larang Penggunaan Pengeras Suara saat Ramadan, Badko HMI Sulteng: Sesat dan Menyesatkan
Ridha Saleh. (Foto: Istimewa)

Opini

Siapa Bilang Morowali dan Morowali Utara Bukan Daerah Pengolah?
Risharyudi Triwibowo. (Foto: Istimewa)

Nasional

Peringati Hari Buruh: Tingkatkan Keselamatan, Kesehatan dan Kompetensi Kerja
Koordinator Jatam Sulteng, Moh. Taufik/hariansulteng

Opini

100 Hari Anwar-Reny: Empat Catatan Kritis JATAM Sulteng