HARIANSULTENG.COM, PALU – Aliansi Buruh Rakyat Bersatu (BURASA) kecewa dengan absennya Gubernur Sulteng, Anwar Hafid saat mereka menggelar aksi May Day pada 1 Mei 2026 lalu.
Dalam demonstrasi tersebut, massa menyuarakan sejumlah isu perburuhan, mulai dari kesejahteraan, bobroknya manajemen K3, menolak sistem outsourcing, hingga pemenuhan hak pekerja perempuan yang terabaikan.
Namun, aliansi merasa kecewa karena Anwar tak berada di tempat. Mereka menolak tawaran untuk berdialog bersama gubernur melalui video call.
“Semua program gubernur ada kata ‘BERAMI’. Nyatanya, kemarin bukan berani, tapi pengecut,” kata Tholib Mahbub, wakorlap aksi May Day di Palu, dalam jumpa pers, Kamis (7/5/2026).
Kekecewaan senada juga diutarakan Komang Jordi selaku ketua Federasi Serikat Pekerja Industrial Merdeka (FSPIM).
Menurut Jordi, sikap gubernur justru bertolak belakang dengan pernyataan-pernyataannya yang seolah menunjukkan keberpihakan kepada buruh.
Olehnya, pihaknya berencana memobilisasi buruh dari Morowali ke Palu, mendesak gubernur memberikan perhatian serius terhadap tuntutan.
“Sampai hari ini kami melihat belum ada keseriusan dari gubernur usai aksi. Karena itu kami menilai ada bentuk pengabaian terhadap situasi perburuhan di Sulteng,” katanya.
(Red)














