Home / Opini / Tojo Una-Una

Kamis, 24 April 2025 - 22:36 WIB

Dari Pekarangan ke Perlawanan: Menolak ‘Kabupaten Sawit’ di Tojo Una-Una

Alfandy Ahmad Eyato/Ist

Alfandy Ahmad Eyato/Ist

Oleh : Alfandy Ahmad Eyato
Pemuda Tojo Una-Una

Pernyataan Gubernur Sulteng Anwar Hafid, yang ingin menjadikan Tojo Una-Una (Touna) sebagai “Kabupaten Sawit”, patut dipertanyakan dengan serius.

Alih-alih terdengar sebagai gagasan pembangunan, pernyataan ini bagi saya—terdengar sebagai ancaman terselubung terhadap ruang hidup kami.

Lebih mengkhawatirkan lagi ketika ide ini dikemas dengan istilah yang menjanjikan: emas hijau, kemakmuran keluarga, hingga retorika partisipasi perempuan.

Namun di balik bahasa manis itu, saya melihat satu hal yang nyata: pengabaian terhadap sejarah, ekologis lokal, dan tubuh-tubuh perempuan yang selama ini menopang kehidupan dari halaman rumahnya.

Saya adalah anak daerah Tojo Una-Una. Saya lahir dan besar di sana. Dan saya tidak bisa diam melihat kampung halaman saya dijadikan proyek eksperimen atas nama kemakmuran.

Gagasan menanam sawit di pekarangan rumah memang terdengar sederhana. Tetapi dalam sejarah pengelolaan tanah dan ruang domestik, perempuanlah yang paling awal dan paling sering kehilangan.

Baca juga  Bawaslu Temukan Puluhan Ribu Surat Suara Pemilu 2024 Rusak di Kabupaten Tojo Una-Una

Ketika pekarangan yang dulunya ditanami sayur, rempah, obat-obatan tradisional, dan menjadi pusat relasi antarwarga, digantikan oleh komoditas ekspor seperti sawit, maka yang digerus bukan hanya tanah: yang hilang adalah kedaulatan perempuan atas pangan, pengetahuan lokal, dan ruang aman dalam kehidupannya.

Pembangunan yang tidak berangkat dari realitas perempuan akan selalu melahirkan kekerasan yang diam-diam tapi dalam: beban kerja yang bertambah, ruang yang menyempit, akses ekonomi yang timpang, hingga konflik sosial yang merayap masuk ke dapur dan ranjang rumah tangga.

Apakah gubernur memahami ini ketika ia menyebut sawit bisa ditanam di halaman dan pasti laku? Ataukah ini hanya strategi populis yang meremehkan kompleksitas relasi perempuan dan ruang hidup?

Saya ingin bertanya lebih jauh: apakah sudah ada kajian dampak ekologis, sosial, dan gender sebelum wacana “Kabupaten Sawit” ini diumumkan? Apakah suara perempuan di desa-desa di Tojo Una-Una pernah diajak bicara? Atau, seperti biasa, perempuan hanya akan menjadi obyek pembangunan, disebut-sebut namanya demi membungkus narasi kemiskinan dan pemberdayaan, tetapi tidak pernah benar-benar diajak menentukan arah hidupnya?

Baca juga  Pemuda Asal Ampana Touna Hilang Saat Pergi Mencari Ikan

Mengubah Tojo Una-Una menjadi Kabupaten Sawit bukan hanya pilihan yang gegabah, tapi juga mencerminkan kemalasan berpikir: seolah-olah tidak ada model pembangunan lain yang bisa digagas selain menyerahkan tanah rakyat ke tangan industri.

Ini bukan pembangunan, ini penyeragaman. Dan dalam sejarah penyeragaman, yang paling dulu terpinggirkan adalah yang paling lemah secara politik: petani kecil, perempuan, dan anak-anak.

Kita tahu sejarah sawit di Indonesia bukanlah sejarah yang manis. Sejak program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) di era Orde Baru hingga ekspansi besar-besaran melalui program transmigrasi, sawit telah mengubah wajah ribuan desa menjadi lahan monokultur. Di Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi Barat, bahkan di beberapa kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah.

Share :

Baca Juga

Gerakan Perempuan Bersatu Sulteng gelar konferensi pers terkait kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Tojo Una-Una, Selasa (17/1/2023)/hariansulteng

Tojo Una-Una

Kecam Kekerasan Seksual Anak 13 Tahun di Touna, Aktivis Perempuan Desak Kapolda Terjun Kawal Penyelidikan
Kapolres Tojo Una-Una (Touna), AKBP Ridwan JM Hutagaol menggelar open house untuk merayakan Natal, Rabu (25/12/2024)/Ist

Tojo Una-Una

Rayakan Natal, Kapolres Touna Gelar Open House
Personel gabungan temukan barang terlarang saat razia di Lapas Ampana, Jumat malam (25/04/2025)/Ist

Tojo Una-Una

Personel Gabungan Temukan Barang Terlarang saat Razia di Lapas Ampana
Nelayan mencari ikan/istimewa

Tojo Una-Una

Curhat Nelayan di Pulau Batu: Sulit dapat BBM untuk Mencari Ikan
Koordinator Jatam Sulteng, Moh. Taufik/hariansulteng

Opini

100 Hari Anwar-Reny: Empat Catatan Kritis JATAM Sulteng
Ilustrasi gempa bumi

Tojo Una-Una

Gempa M 4,6 Guncang Tojo Una-Una
Densus 88 bekuk 3 terduga teroris jaringan MIT di Palu dan Ampana, Kamis (19/12/2024)/Ist

Palu

Densus 88 Bekuk 3 Terduga Teroris Jaringan MIT di Palu dan Ampana
Kapolsek Ulubongka, Iptu Muhajir Wonti memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi warga Desa Kasiala, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una/Ist

Tojo Una-Una

Lintasi 6 Sungai, Kapolsek Ulubongka Beri Pelayanan Kesehatan Gratis di Daerah Pelosok