HARIANSULTENG.COM, PALU – Asosiasi Media Siber Indonesia Sulawesi Tengah (AMSI Sulteng) menggelar pelatihan jurnalistik bertema “Menulis untuk Menyelamatkan Alam” selama dua hari mulai 8-9 Desember 2025 di Kota Palu.
Kegiatan ini diikuti 30 jurnalis dari berbagai daerah di Sulteng, baik media cetak, daring, hingga komunitas jurnalisme independen.
Ketua AMSI Sulteng, Muhammad Iqbal mengatakan bahwa jurnalisme lingkungan tidak boleh berhenti pada pelaporan peristiwa semata.
“Jurnalisme lingkungan harus mampu membongkar akar masalah, menguji kebijakan, dan memastikan pembangunan tidak merampas hak ekologis masyarakat,” ujar Iqbal, Kamis (8/1/26).
Ia menambahkan, Sulteng saat ini berada di persimpangan antara kepentingan ekonomi dan keberlanjutan alam. Olehhnya, jurnalis perlu hadir sebagai penjaga nalar publik dan kepentingan generasi mendatang.
Menurut Iqbal, kolaborasi antarmedia dan lintas sektor menjadi kunci agar liputan lingkungan tidak terfragmentasi.
“Jejaring yang kuat akan membuat liputan memiliki daya dorong untuk mendorong perubahan kebijakan,” katanya.
Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari jurnalis nasional, aktivis lingkungan, hingga perwakilan sektor industri.
Dari sektor industri, Corporate Communication Manager PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), Adhika Paramanandana, memaparkan perspektif perusahaan mengenai pengelolaan lingkungan dan komunikasi keberlanjutan.
Ia menekankan pentingnya transparansi dan komunikasi terbuka antara perusahaan, media, dan publik.
“Transparansi informasi dan komunikasi yang terbuka menjadi kunci membangun kepercayaan publik dalam pengelolaan lingkungan di sektor industri,” tutur Adhika.
Ia juga menyebut media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi lingkungan secara berimbang agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh.
Pemimpin Redaksi National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, turut menjadi pembicara dengan materi bertajuk “Palu Bercerita: Menggugah dan Jurnalisme Lingkungan”. Dalam paparannya, Didi menekankan pentingnya pendekatan storytelling dalam liputan lingkungan.
“Data dan fakta adalah fondasi jurnalisme, tetapi cerita yang kuat membuat publik peduli dan mau terlibat dalam isu lingkungan,” ujarnya.
Menurut Didi, jurnalis perlu mengaitkan krisis ekologis dengan kehidupan sehari-hari masyarakat agar dampaknya terasa nyata, bukan sekadar angka dan grafik.
Sementara itu, perwakilan Yayasan Komiu mengangkat materi mengenai Krisis Ekologis dan Advokasi Tambang di Sulawesi Tengah. Mereka menyoroti dampak pertambangan terhadap ekosistem dan ruang hidup masyarakat, terutama di wilayah lingkar tambang.
Selain itu, pelatihan ini juga menghadirkan jurnalis Sulawesi Tengah yang berbagi pengalaman liputan investigatif lingkungan.
Para peserta menggarisbawahi bahwa peliputan isu lingkungan di daerah membutuhkan keberanian, kedalaman riset, serta jejaring yang kuat antarjurnalis untuk saling menguatkan di tengah berbagai tekanan.
Pelatihan dilaksanakan secara partisipatif melalui pemaparan interaktif, diskusi, studi kasus, simulasi penulisan, hingga bedah karya.














