HARIANSULTENG.COM, PALU – Sejumlah aktivis tergabung dalam Koalisi Selamatkan Bualemo menggelar aksi di depan Kantor DPRD Sulteng, Kota Palu, Jumat (30/10/2026).
Massa menyuarakan ancaman pertambangan nikel terhadap hutan Tompotika di Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai.
Kawasan ini menjadi habitat satwa endemik, seperti tarsius, anoa, babirusa, kuskus beruang, dan rangkong Sulawesi.
Satu sisi, Bualemo termasuk wilayah penting bagi produksi pangan di Banggai, terdiri dari 2.532 ha lahan pertanian pangan berkelanjutan, dan 46.610 ha cadangan pertanian pangan berkelanjutan.
Kehadiran perusahaan tambang nikel dikhawatirkan memengaruhi lahan pertanian dan menggerus sumber penghidupan warga.
“Ketika lahan pertanian rusak atau kehilangan fungsi produksinya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani, tetapi juga oleh keluarga mereka, masyarakat desa, serta keberlanjutan pasokan pangan daerah,” kata Moh Taufid selaku korlap aksi.
Taufid memberi contoh kasus di Desa Trans Mayayap contohnya. Sekitar 200 ha persawahan di sana telah mengalami alih fungsi lahan.
Berdasarkan data Jatam Sulteng, terdapat 10 konsesi nikel di Bualemo, 9 di antaranya teridentifikasi masuk kawasan hutan.
Konsesi tambang ini mengkapling 12 ha hutan lindung, 6.239 ha hutan produksi, 554 ha hutan produksi konversi, 4.662 ha hutan produksi terbatas.
“Hutan Tompotika bukan sekadar hamparan lahan yang dapat dialokasikan untuk kepentingan industri ekstraktif. Hutan merupakan ruang hidup berbagai spesies sekaligus penyangga ekologis yang menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya,” tutur Tauhid.
(Red)














