Home / Palu

Sabtu, 10 Februari 2024 - 20:06 WIB

Komunitas Transpuan di Palu Melawan Stigma dan Harapannya di Pemilu 2024

Ilustrasi/iStock

Ilustrasi/iStock

HARIANSULTENG.COM, PALU – Pekerjaan di bidang kecantikan menjadi pilihan kebanyakan kaum transpuan atau waria di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Keterampilan tata rias sebagai modal utama mereka untuk membuka usaha salon.

Bagi transpuan, bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga mengikis stigma dan prasangka. Upy Mimi salah satunya, yang membuka salon di wilayah Kelurahan Boyaoge.

Suatu sore pada Sabtu (3/2/2024), salon milik Upy Mimi buka namun masih lengang. Hanya ada seorang perempuan berjilbab duduk di ruang depan.

“Tunggu yah saya panggil dulu (Upy Mimi),” ucapnya menyambut kedatangan HarianSulteng.com.

Meski jarum jam menunjukkan pukul 5 sore, namun sengatan matahari Palu masih sangat terasa. Sore itu pekerja di salon sengaja menutup sebagian gorden untuk mengurangi sinarnya masuk ke dalam ruangan.

Mimi Salon sekilas sama seperti salon pada umumnya, ada cemin tempel, kursi dan peralatan kecantikan lainnya. Sembari menunggu antrian, pengunjung dapat menonton TV LED yang dipasang di ruang depan.

Baca juga  HUT ke-49, PDI Perjuangan Sulteng Siap Rebut Kembali Kursi Bupati Banggai Bersaudara

Salon itu juga kini menjadi Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang difasilitasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Hal ini diketahui lewat neon box Mimi Salon yang terletak di luar ruangan.

Beberapa menit kemudian Upy Mimi keluar menghampiri HarianSulteng.com, dan mulai bercerita tentang komunitas transpuan di Palu. Ia tampak antusias karena sudah lama juga ingin membagikan kisahnya kepada wartawan.

Mimi terlahir sebagai seorang lelaki. Namun, gestur dan gaya bicaranya yang lebih mengarah ke perempuan sangat terlihat jelas.

Transpuan bertahun-tahun bertarung di tengah kuatnya stigmatisasi dan diskriminasi hanya karena ekspresi gender yang mereka pilih. Komunitas mereka ada, tetapi kehadirannya tidak diterima.

Mimi teringat saat komunitasnya ingin mengadakan lomba busana waria pada 2021. Namun reaksi penolakan dan pandangan buruk langsung ditunjukkan banyak orang ketika undangan beredar luas di media sosial. Kegiatan pun terpaksa dibatalkan.

“Ini selalu menjadi polemik di masyarakat. Kegiatan-kegiatan dari waria selalu dianggap negatif. Padahal kami bukan orang-orang yang ingin mendirikan sebuah negara atau memerdekakan diri. Waria selalu dipandang maksiat dan sebagainya. Itu yang kami sayangkan,” ungkapnya.

Baca juga  Perindo Sulteng Usulkan Andri Gultom Dipecat karena Dukung Mardiman Sane

Tidak semua transpuan di Palu merupakan penduduk asli. Sebagian mereka datang dari luar daerah dan memilih ibu kota Sulawesi Tengah sebagai tempat mengadu nasib.

Mimi merasakan betul bagaimana transpuan menjadi salah satu kelompok yang sangat rentan terhadap perlakuan diskriminatif. Selain dianggap pendosa, ada juga yang menuding transpuan sebagai sumber penyebaran HIV/AIDS.

“Hak asasi berbicara tentang hak-hak yang melekat pada manusia, tidak mengenal waria atau lainnya. Ini sangat diskriminatif,” imbuhnya.

Tahun 2010, Mimi menggagas dibentuknya Himpunan Waria (Hiwari) Sulawesi Tengah. Ia ditunjuk menjadi ketua melalui proses pemilihan layaknya pemilu yang diikuti lebih dari 100 transpuan.

Sejak itu ia berusaha kuat menepis beragam stigma. Mimi lalu membentuk Komunitas Pombegaya pada 2018. Di Pombegaya, ratusan transpuan membicarakan masalah mereka sendiri dan masyarakat, kemudian mengambil tindakan.

Share :

Baca Juga

Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid memimpin gelar pasukan Satpol PP Kota Palu dan Satuan Perlindungan Masyarakat Kota Palu tahun 2023, Selasa (7/2/2023)/Pemkot Palu

Palu

Pemkot Palu Bakal Tambah Kendaraan Operasional Satpol PP
Anwar Hafid dan Reny A Lamadjido/Ist

Palu

Resmi Ditetapkan Jadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng Terpilih, Anwar-Reny Segera Dilantik
Sekelompok massa mengatasnamakan 'Aliansi Jaga Aqidah' menggelar aksi demonstrasi menolak rencana Festival Persahabatan Palu, Jumat (17/01/2025)/Ist

Palu

Dinilai Merusak Akidah, Massa Umat Islam Demo Tolak Festival Persahabatan Palu
Rahmad Mustafa membuka kegiatan peringatan Hari AIDS Sedunia tingkat Kota Palu tahun 2025, Rabu (03/12/2025). (Foto: Pemkot Palu)

Advertorial

HIV/AIDS di Palu Tembus 2.194 Kasus, 146 Orang Meninggal Sejak 2002
Perwakilan KPK gelar audiensi program oembersntsr korupsi di Gedung DPRD Palu Jl Moh Hatta, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (11/2/2022)/hariansulteng

Palu

Telat Kirim APBD 2021 ke Pusat, KPK Sentil Pemkot dan DPRD Palu
Guru Besar Hukum Agraria dan Sumber Daya Alam Universitas Hasanuddin, Prof Abrar Saleng. (Foto: Istimewa)

Palu

Cukong di Balik Tambang Ilegal: Untung Berlipat, Negara dan Pekerja Menanggung Derita
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid didampingi sejumlah pimpinan OPD kembali melakukan kunjungan ke beberapa kelurahan, Minggu (9/6/2024)/Pemkot Palu

Palu

Weekend, Wali Kota Hadianto Rasyid Serap Aspirasi Warga di Sejumlah Kelurahan
Sebuah truk pengangkut elpiji terbakar di Jalan Manggis, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sabtu (23/4/2022)/Ist

Palu

Truk Pengangkut 175 Tabung Elpiji Terbakar di Palu, Warga: Supirnya Tak Tahu ke Mana