Home / Nasional

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:17 WIB

Organisasi Pers-Jurnalis Desak Prabowo Minta Maaf soal Sebut Wartawan ‘Londo Ireng’

Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan di acara Harlah ke-28 PKB, Kamis (23/7/2026). (Foto: presidenri.go.id)

Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan di acara Harlah ke-28 PKB, Kamis (23/7/2026). (Foto: presidenri.go.id)

HARIANSULTENG.COM – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut wartawan sebagai londo ireng menuai kecaman dari kelompok organisasi pers dan jurnalis.

Dalam rilis pers, Sabtu (25/7/2026), mereka menilai ucapan sang kepala negara telah merendahkan, mengecilkan, dan mendelegitimasi profesi dan kerja-kerja jurnalistik yang dinaungi undang-undang.

Organisasi-organisasi tersebut terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN), Koalisi Media Alternatif (KOMA), Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ), Pewarta Foto Indonesia (PFI), dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).

Istilah ‘londo ireng’ yang disampaikan Prabowo saat menghadiri Harlah ke-28 PKB pada 23 Juli 2026 tersebut memiliki konotasi yang dianggap berkhianat, membelot, atau lebih membela kepentingan asing dibandingkan bangsanya sendiri.

“Tuduhan terhadap profesi ini (jurnalis) tak mendasar dan tidak tepat dilontarkan seorang presiden, karena jurnalis bekerja untuk menyampaikan fakta ke publik, bukan untuk kepentingan asing,” ucap Ketua Umum AJI Indonesia, Nany Afrida.

Baca juga  Satu Prajurit TNI Tewas Ditembak KKB Papua saat Ingin Berbelanja

Nany mengingatkan bahwa Perlu jurnalis dan media pers bekerja di bawah naungan UU. Selain itu, wartawan juga memiliki rambu-rambu yang diatur dalam kode etik jurnalistik (KEJ).

Menurutnya, pernyataan Prabowo tidak hanya merendahkan profesi jurnalis, tetapi juga berbahaya bagi iklim kebebasan pers dan demokrasi.

“Alih-alih memperbaiki kebijakan yang dikritik, pemerintah lebih suka menyerang jurnalis. Padahal kritik adalah hal wajar di negara demokrasi dan jurnalis memang berperan sebagai anjing penjaga dan menjadi corong publik,” katanya.

Ini bukan kali pertama Prabowo menunjukkan permusuhan pada jurnalis, termasuk ketika presiden mengusir jurnalis saat ia berpidato.

Perlakuan buruk presiden pada jurnalis ini menunjukkan pada dunia internasional kalau Indonesia bukan menjadi negara penjaga demokrasi, tapi negara yang represif terhadap media.

Baca juga  AJI Palu-AMSI Sulteng Sebut Pemberitaan Media soal Isu Perubahan Iklim Masih Minim

Oleh karena itu, Nany dan kawan-kawan menyerukan sejumlah tuntutan kepada Prabowo dan jajarannya:

1. Presiden Prabowo Subianto harus meminta maaf secara resmi dan terbuka kepada wartawan serta kelompok masyarakat atas penggunaan istilah londo ireng yang dikaitkan dengan profesi jurnalis.

2. Presiden dan seluruh jajaran pemerintah harus menghentikan pelabelan, stigmatisasi, kriminalisasi, serta narasi negatif terhadap kerja-kerja jurnalis, media, pengamat dan kelompok masyarakat sipil yang menjalankan fungsi kontrol publik.

3. Pemerintah harus menjamin keselamatan jurnalis dan memastikan tidak ada intimidasi, kekerasan, dan kriminalisasi terhadap wartawan dan media akibat pemberitaan yang kritis.

4. Mendesak presiden dan jajarannya menunjukkan kepemimpinan yang demokratis dan menghormati kebebasan pers.

(Red)

Share :

Baca Juga

Kongres Masyarakat Adat Nusantara tahun 1999/Ist

Nasional

Peringati HKMAN 2025, AMAN Desak Pengesahan RUU Masyarakat Adat
Ilustrasi buruh menuntut kenaikan upah minimum/KSPI

Nasional

Kecewa Upah Hanya Naik 1.09 Persen, 2 Juta Buruh Ancam Mogok Nasional
Ilustrasi gempa bumi

Nasional

BREAKING NEWS! Gempa Magnitudo 7,5 Guncang NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami di 5 Provinsi
Serikat buruh menggelar demo tuntut upah layak dan mencabut UU Cipta Kerja di Depan Kantor DPRD Kota Palu, Rabu (24/11/2021)/hariansulteng

Nasional

MK Sebut Omnibus Law Bertentangan dengan UUD 1945
Vale Dukung Sektor Unggulan Kelautan dan Pertanian di Kawasan Pesisir Malili, Dananya Capai 600 Juta Rupiah

Nasional

Vale Dukung Sektor Unggulan Kelautan dan Pertanian di Kawasan Pesisir Malili, Dananya Capai 600 Juta Rupiah
Ilustrasi penembakan/Ist

Nasional

Komnas HAM Soroti Penyelesaian Kasus 3 Warga di Poso Diduga Jadi Korban Salah Tembak
Hujan yang mengguyur tak menyurutkan antusias warga negara Indonesia (WNI) di Tiongkok untuk menunaikan salat Idulfitri 1445 Hijriah/Ist

Nasional

WNI Tetap Khusyuk Salat Idulfitri di KBRI Beijing Meski Hujan dan Cuaca Dingin
Putra sulung Ridwan Kamil, Emmeril Kahn Mumtadz (paling kiri) dikabarkan hilang saat berenang di Sungai Aare, Swiss/Instagram @emmerilkahn

Nasional

Beri Update Soal Pencarian Sang Anak di Swiss, Ridwan Kamil Mohon Doa