Home / Morowali Utara

Kamis, 9 Mei 2024 - 23:03 WIB

Serikat Petani-FRAS Sebut Pemprov Sulteng Tak Transparan Tangani Konflik Masyarakat dan PT ANA

SPPT-FRAS Sulteng menggelar konferensi pers terkait konflik agraria antara PT ANA dan masyarakat Petasia Timur, Kamis (9/5/2024)/hariansulteng

SPPT-FRAS Sulteng menggelar konferensi pers terkait konflik agraria antara PT ANA dan masyarakat Petasia Timur, Kamis (9/5/2024)/hariansulteng

HARIANSULTENG.COM, MORUT – Konflik lahan antara perusahaan sawit PT Agro Nusa Abadi (ANA) dengan warga Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara masih terus bergulir.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) sebelumnya telah membentuk tim untuk melakukan verifikasi dan validasi lahan atas konflik berkepanjangan tersebut.

Akan tetapi, upaya Pemprov Sulteng ini dinilai tidak transparan karena tidak melibatkan masyarakat yang tergabung dalam Serikat Petani Petasia Timur (SPPT).

“Yang kami sayangkan bahwa upaya penyelesaian yang berlangsung selama ini tidak partisipatif. Kami sebagai masyarakat yang berkonflik tidak pernah dilibatkan,” ujar Pimpinan SPPT, Ambo Endre dalam jumpa pers didampingi anggota SPPT Ambo Tang dan Moh Arif, serta Koordinator Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS) Sulteng, Eva Bande, Kamis (9/5/2024).

Terkait verifikasi dan validasi lahan, Ambo menyatakan pihaknya telah memasukkan data subjek maupun objek sejak 11 September 2023.

Terdapat luasan lahan 740 hektare dengan jumlah 370 kepala keluarga (KK) yang tersebar di Desa Tompira, Desa Bunta, Desa Bungintimbe dan Desa Towara.

Baca juga  FRAS Sulteng Sesalkan Tim Pemprov Buat Keputusan Tanpa Melibatkan Petani

Ambo meminta Pemprov Sulteng memerhatikan nasib masyarakat dan bukan terkesan berpihak kepada perusahaan yang beroperasi belasan tahun tanpa Hak Guna Usaha (HGU).

“Bahkan lahan-lahan anggota serikat khususnya di Bunta ada pengurangan, mereka berupaya mengurangi. Jadi tolonglah transparan dan partisipatif. Perhatikan masyarakat yang selama ini berjuang mendapat keadilan,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia merasa heran Pemprov Sulteng justru meminta agar HGU PT ANA segera diurus untuk memastikan aktivitas perusahaan berjalan normal.

“Apakah kita mau berkompromi dengan perusahaan yang beroperasi tanpa memiliki izin. Kok bisa-bisanya pemprov meminta agar segera diterbitkan HGU. Bukannya HGU dulu baru beroperasi, tapi ini beroperasi dulu dan HGU belakangan. Aturan macam apa ini,” ucap Ambo.

Koordinator FRAS Sulteng, Eva Bande menyesalkan langkah-langkah penyelesaian yang dilakukan Pemprov Sulteng atas konflik agraria di Petasia Timur.

Eva menekankan bahwa PT ANA sebagai anak korporasi sawit Astra Agro Lestari beroperasi selama kurang lebih 17 tahun tanpa mengantongi HGU.

Baca juga  Konflik Petani Dengan PT ANA Tak Kunjung Selesai, FRAS Sulteng : Jangan Ada Kongkalikong

Olehnya, aktivitas agraria berusia 45 tahun itu mempertanyakan hak kepemilikan perusahaan sehingga Pemprov Sulteng melepaskan 282,74 hektare lahan yang diklaim milik PT ANA untuk dikembalikan kepada petani di Desa Bunta.

“Ini juga aneh, kok PT ANA memberikan? Hak kepemilikan apa yang dimiliki PT ANA sehingga ada kata ‘pelepasan’. Yang ada perusahaan menduduki tanpa hak. Punya siapa? punya rakyat,” tegas Eva.

Dikatakan Eva, masih ada desa lain yang lahannya mesti dikembalikan kepada masyarakat selain di Desa Bunta.

Di sisi lain, ia menyayangkan fenomena begitu mudahnya masyarakat diseret ke ranah hukum ketika menduduki lahan milik perusahaan.

“FRAS memandang pada konteks administrasi perizinan. Pemerintah harus menertibkan. Masa rakyat dengan mudah dipidana menduduki tanpa hak. Kami mendesak Pemprov Sulteng melakukan penertiban. Jangan cuma rakyat diminta terus-terusan mematuhi undang-undang, tetapi perusahaan dibiarkan tidak taat,” terang Eva.

Share :

Baca Juga

Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Sulteng, AKBP Sugeng Lestari/Ist

Morowali Utara

Kasus Dugaan Penipuan Sewa Lahan PT HNE di Morut Naik ke Tahap Penyidikan
Banjir merendam Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara (Morut), usai hujan deras mengguyur, Sabtu (29/03/2025)/Ist

Morowali Utara

Brimob Polda Sulteng Evakuasi Warga Terdampak Banjir di Desa Bunta Morut
Polisi bantu warga pikul motor seberangi banjir di Morowali Utara/Ist

Morowali Utara

Polisi Bantu Warga Pikul Motor Seberangi Banjir di Morowali Utara
Fasilitas site camp CV Surya Amindo Perkasa SAP hancur diterjang banjir bandang, Jumat (03/01/2025)/Ist

Morowali Utara

Diterjang Banjir Kiriman: Camp CV SAP di Morut Luluh Lantak, Karyawan Jadi Korban
Bentrokan antara TKI dan TKA di PT GNI, Kabupaten Morowali Utara, Sabtu (14/1/2023)/Ist

Morowali Utara

Buntut Kerusuhan di PT GNI, Polda Sulteng Tetapkan 17 Orang Sebagai Tersangka
Jurnalis Indosiar, Syamsuddin Tobone/Ist

Morowali Utara

Marak Komentar Kasar Usai Beritakan Pembunuhan di Morut, Jurnalis Indosiar Bakal Tempuh Jalur Hukum
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Nasional Demokrat (Nasdem) kabupaten Morowali Utara (Morut) menggelar konsolidasi dan pendidikan politik menuju kemenangan Pemilu di tahun 2024 mendatang.

Morowali Utara

DPD Partai Nasdem Morut Gelar Konsolidasi dan Pendidikan Politik Hadapi Pemilu 2024
Seorang pekerja PT Usaha Kita Kinerjatama (UKK) bernama Supriadi ditemukan tewas usai dilaporkan terjatuh dari tongkang, Rabu (5/8/2026). (Foto: Istimewa)

Morowali Utara

Jatuh dari Tongkang, Pekerja Tambang di Morut Ditemukan Tewas